Header Ads

Cerpen Wajah Ayah





Wajah Ayah
Masih jelas terngiang di telingaku suara decitan pedal sepeda ontel milik ayahku saat di pendakian jalan menuju pasar Blok B. Aku agak kawatir apakah sepeda ini akan sampai ke atas ataukah akan kembali meluncur kebawah seperti mobil truk mainanku yang berisi muatan penuh dan  tali penariknya putus saat aku tarik menaiki bukit belakang rumah. Aku ingat sekali waktu itu aku seperti seekor monyet pemanjat kelapa yang sering duduk boncengan di belakang sepeda tuannya ketika mencari langganan untuk dipanjat pohon  kelapanya. Aku heran saja kenapa sepeda ini masih kuat padahal ia sudah karatan dimana-mana dan berbunyi di sana-sini.
Suatu ketika aku ingin sekali belajar bersepeda. Waktu itu aku sudah kelas tiga sekolah dasar. Kulihat sepeda ayah tergeletek begitu saja, kuraih kemudian dengan sedikit tenanga aku mencoba menyeimbangkan berdirinya sepeda tersebut. Ini cukup memelelahkan untuk ukuran tubuhku yang mungil. Dengan hati-hati kukayuh. Namun, saat kakiku keduanya terangkat dari tanah, tubuhku terasa begitu berat dan sepeda itu membawaku tersungkur jatuh ke tanah. Sakit sekali. Sudah jatuh tertimpa sepeda lagi. Ayahku melihat kejadian itu segera saja ia menolongku untuk berdiri. Entah kenapa saat ayahku datang aku menjadi cengeng. Melihat aku menagis, ayah menenangkanku.
“Sepeda ini masih terlalu tinggi untukmu. Tapi jika seandainya kamu tetap bersikeras ingin bersepeda. Baiklah, akan ayah ajarkan.” Cegukanku berangsur hilang hinga sedikit demi  sedikit muncul senyum di wajahku. Ia tertawa. Aku berdiri dan ayahku memegangi sepeda ontelnya dari belakang. Aku naik, dan mengayuh sedikit demi sedikit. Aku agak kesulitan karena kaki yang pendek tidak begitu sampai untuk mengayuh pedalnya. Mendengar ayahku yang tertawa melihat tingkahku, akupun juga ikut tertawa. Saat ia lepaskan pegangannya aku kembali kehilangan kendali hingga ia kembali menangkap  dan memegangi sepedanya. Selama seminggu aku berlatih bersepeda setiap sore bersama ayah akhirnya aku pun bisa mengendarai ontel itu.
Esok paginya aku merengek meminta ikut pergi ke kebun menyadap karet bersama ayah. Ia agak protes karena tempat menyadap karetnya jauh dari perkampungan. Untuk sampai ke sana harus berjalan kaki melintasi bukit dan menyeberangi sungai. Namun, aku tetap merengek untuk tetap ikut karena hari ini hari minggu. Dan akhirnya ia pun mengizinkan.
Semangat yang awalnya menggebu-gebu ternyata tercecer satu persatu di perjalanan. Aku merasakan jauh sekali berjalan, kaki dan tanganku sudah merah disantap oleh nyamuk. Ayahku Cuma tersenyum melihatku mengaruk-garuk seperti seekor kera. Sesampainya di kebun karet itu ternyata tempatnya tak seindah seperti yang ku bayangkan. Semua hanya semak belukar, jejak babi hutan bertebaran di mana-mana. Ini menjadi membosankan.
Kupandangi sekeliling, disana ada sebuah pohon yang cukup tinggi dengan banyak cabang dahan yang mudah untuk dipanjat. Aku bilang pada ayah untuk menunggunya di atas pohon itu saja. Ia mengizinkan. Kupanjat pohon itu dan kucari posisi yang pas dan strategis untuk duduk. Kuperhatikan ayahku dari tinggian pohon itu. Satu persatu pohon karet itu dengan cepat ia sadap. Ditampung dengan tempurung. Berganti dari satu pohon ke pohon yang lain. Hembusan angin yang lembut begitu menghanyutkan, dihibur dengan tarian-tarian dedaunan dengan gerak irama yang begitu teratur.
Sedang asiknya duduk di atas pohon itu tiba-tiba terdengar suara desiran. Aku menoleh ke arah suara itu, ternyata berasal dari dahan di atas kepalaku. Dan kulihat ternyata seekor ular kobra yang besar dengan taringya yang runcing telah siap mencengkram. Terlihat racun pada teringnya telah siap ia tancapkan pada bagian kulitku yang bisa ia tembus dengan taring-taringya itu. Saat aku hendak turun di bawah kulihat dua ekor babi yang bertubuh besar dengan wajah garang telah menanti. Aku panik, apa yang harus kulakukan. Dalam kepanikanku itu aku tergelincir dari pijakan hingga gantunganku terlepas. Saat terjatuh kulihat seekor burung memanggil-manggil namaku. Aku tersadar ternyata aku tertidur dan ayahku memanggilku dari bawah. Ia sudah siap dan mengajakku untuk pulang. Untung saja aku tidak terjatuh.
Senja yang begitu pekat terlihat samar bayangan sesosok tubuh berjalan gontai semakin lama semakin jelas keluar dari kegelapan hutan. Itu adalah ayah. Ku tau lusuh di wajahnya tak mengaburkan semangat di matanya. Begitupun banyak beban yang ditanggungnya takkan mampu menghilangkan goresan senyum di pipinya. Menghidupi keluarga dengan segenap letih di tangannya ia genggam bagai bara yang dipeluk erat dalam tubuhnya. Tapi apakah akan selamanya semangat mampu tetap menegakkan setiap tulang yang semakin keropos, daging yang semakin mengkerut menipis dan mulai tak setia menemaninya. Ia adalah syuhada’ yang memikul beban berat untuk menegakkan senyum disetiap pipi anak-anaknya.
Dalam lingkaran hidup yang begitu menyesak, dunia seakan berpaling memejamkan mata meninggalkan tubuh yang lemah tergeletak lunglai tak berdaya. Dalam samar masa depan yang tidak terduga, ia sudah tertulis dalam langkah pertama yang kita pijak dipagi buta. Suatu ketika kenginan mempunyai sepeda sudah memuncak memenuhi jiwa seorang bocah yang masih mentah.
Pagi harinya tlah kulihat tergeletak sebuah sepeda BMX terparkir di beranda rumah. Aku kegirangan tak terkira senangnya hingga membuat aku semangat untuk segera pergi ke sekolah. Namun, sekilas sepeda ontel milik ayah tak terparkir lagi di tempat biasanya. Di sekolah dengan bangganya kupamerkan setiap detil mainan baruku ini kepada semua teman di sekolah.  Dan saat pulang dari sekolah, tak seorangpun kutemukan di rumah. Tak lama berselang ibu pulang dan langsung membawaku pergi kerumah sakit, ayah terjatuh, tulang rusuknya patah dan harus dirawat.
Pagi yang cukup cerah, sepoi angin memebelai pipi serta menggoda dedaunan yang malu-malu menari seirama satu sama lain. Sangar kulihat matahari dengan gagahnya menyinari setiap sisi kehidupan serta memberi kehidupan pada makhluk yang telah ditakdirkan menempuh jalannya masing-masing. Kukayuh sepeda ontel itu, sekarang sudah berbeda. Sepeda ontel milik ayah tidak lagi dengan susah payah kukayuh. Kudapatkan kembali sepeda ini dari orang tua yang dulu membelinya. Kususuri setiap jalanan yang pernah kulalui dulu bersama ayah.
Semua masih tetap sama namun dalam pandangan yang berbeda. Anakku memeluk pinggangku melewati pendakian yang dulu pernah kulalui bersama ayah, namun bukan untuk ke pasar. Jalannya berbelok ke arah pemakaman. Burung-burung bersiul saling saut menyaut satu sama lain. Seperti anggota dewan yang bersikeras untuk diberikan anggaran belanja. Aku sampai dan kusandarkan sepedaku lantas kubimbing anakku pada sebuah makam. Kutaburkan bunga-bunga dan lantas kupimpin doa dan kupegang dan kupandangi nisannya.
“Untuk ayah. Beribu doa selalu terkirim untuk menemanimu dalam kesendirian menanti datang waktu kebangkitanmu. Meski bibir tak mapu berucap namun hati tetap bertasbih menyebut namaNya agar ia selalu memeliharamu pada tempat terbaik di sisinya.”
Anakku menarik bajuku dan berkata “ayah aku ingin belajar sepeda.” Aku tersenyum dan berlalu bersama anakku meninggalkan tempat itu.

                                                                          Dimuat di : Radar Cirebon Mei 2018



No comments